
Sebagai sesama pemilik UMKM, saya paham rasanya ketika hampir seluruh waktu dalam sehari sudah habis untuk mengurus operasional bisnis. Belum lagi iklan, pelanggan, konten Instagram dan TikTok, sampai memastikan produk tetap berjalan di marketplace.
Dalam kondisi seperti itu, membuat website sering terasa seperti pekerjaan tambahan yang masih bisa ditunda.
Minggu lalu, seorang rekan sesama pelaku usaha bercerita kepada saya. Bisnisnya sudah berjalan lebih dari lima tahun dan selama ini cukup mengandalkan media sosial untuk menjangkau pelanggan.
Namun belakangan ada satu pertanyaan yang semakin sering ia dengar, baik dari pelanggan lama maupun calon pelanggan baru:
“Pak, ada website resminya nggak?”
Pertanyaan itu membuatnya mulai memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu menjadi perhatian. Selama ini bisnisnya memang tetap berjalan tanpa website, tetapi hampir seluruh jejak digitalnya berada di platform milik pihak lain.
Ketika kemudian ia menghubungi saya dan bertanya,
“Mas Eno, kalau saya mau bikin website untuk bisnis ini, sebenarnya halaman apa saja yang perlu disiapkan?”
Pertanyaan tersebut terasa sangat familiar.
Saya juga pernah berada pada tahap ketika website terlihat seperti kumpulan banyak hal: desain, halaman, artikel, SEO, menu, sampai urusan teknis. Setelah beberapa kali mengelola dan menguji struktur website, saya justru menemukan bahwa titik awalnya tidak perlu serumit itu.
Bukan soal membuat sebanyak mungkin halaman.
Yang lebih penting adalah memastikan calon pelanggan bisa memahami siapa kita, apa yang kita tawarkan, informasi apa yang mereka butuhkan, dan ke mana mereka harus melangkah berikutnya.
Karena itu, sebelum memikirkan desain atau fitur yang terlalu jauh, saya biasanya mulai dari struktur.
Dalam artikel ini, kita akan melihat bagaimana menyusun struktur website UMKM secara sederhana, halaman apa saja yang biasanya diperlukan, dan kapan sebuah bisnis sebenarnya membutuhkan halaman tambahan seperti landing page atau blog.
Tujuannya bukan membuat website terlihat besar, tetapi membuatnya jelas, mudah digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis serta pelanggan.
Mulai dari Perjalanan Pelanggan, Bukan Jumlah Halaman
Saat mulai merancang website, kita mudah terjebak pada pertanyaan seperti: perlu berapa halaman, menu apa saja yang harus dibuat, atau apakah semua produk perlu memiliki halaman sendiri.
Saya lebih suka memulainya dari arah yang berbeda: apa yang sebenarnya ingin dilakukan pelanggan ketika mereka datang ke website?
Bayangkan seseorang baru pertama kali mengenal bisnis kita. Biasanya ia belum langsung siap membeli. Ia mungkin ingin memahami bisnisnya terlebih dahulu, melihat produk atau jasa yang tersedia, mencari informasi tambahan, lalu memastikan bagaimana cara menghubungi atau melakukan pemesanan.
Alurnya kurang lebih sederhana:
Datang → memahami → mempertimbangkan → percaya → bertindak.
Struktur website sebaiknya membantu perjalanan itu. Karena itu, tidak semua bisnis membutuhkan susunan halaman yang sama.
UMKM yang menjual jasa, misalnya, bisa membutuhkan penjelasan layanan yang lebih rinci. Bisnis dengan banyak produk mungkin lebih membutuhkan kategori dan halaman produk. Sementara bisnis lokal bisa jadi lebih mengutamakan informasi layanan, lokasi, jam operasional, dan cara menghubungi.
Salah satu cara yang saya gunakan untuk memahami kebutuhan tersebut adalah melihat pertanyaan yang benar-benar diajukan pelanggan. Dari sana kita bisa melakukan riset keyword UMKM untuk mengetahui bahasa yang mereka gunakan ketika mencari informasi, produk, atau solusi.
Tetapi keyword bukan berarti semuanya harus berubah menjadi artikel blog. Ada pencarian yang lebih tepat dijawab melalui halaman produk, halaman jasa, FAQ, atau informasi utama di website.
Ini juga menjadi alasan mengapa saya melihat website bukan sekadar tempat menaruh profil bisnis. Di tengah perubahan cara orang mencari informasi melalui mesin pencari, media sosial, hingga AI, website tetap dapat berfungsi sebagai tempat kita menyusun informasi bisnis secara lebih terstruktur. Saya pernah membahas konteks ini lebih jauh dalam artikel tentang masa depan website.
Jadi, sebelum menentukan berapa banyak halaman yang perlu dibuat, petakan dulu apa yang perlu diketahui pelanggan dan langkah apa yang kita harapkan mereka lakukan setelah menemukan informasi tersebut.
Setelah alurnya mulai terlihat, barulah kita bisa menentukan halaman inti apa saja yang benar-benar dibutuhkan.
Halaman Inti yang Biasanya Dibutuhkan Website UMKM
Setelah memahami perjalanan pelanggan, kita bisa mulai menentukan halaman apa saja yang memang perlu disiapkan.
Tidak ada jumlah halaman yang harus sama untuk semua bisnis. Website UMKM dengan tiga jenis layanan tentu bisa memiliki struktur yang berbeda dengan toko yang menjual puluhan produk. Namun, ada beberapa halaman inti yang biasanya menjadi fondasi awal.
Beranda: membantu pengunjung memahami bisnis
Beranda adalah tempat pengunjung mendapatkan gambaran awal tentang bisnis kita.
Dalam beberapa detik pertama, idealnya mereka sudah bisa memahami hal-hal dasar: bisnis ini bergerak di bidang apa, produk atau jasa apa yang ditawarkan, siapa yang dilayani, dan langkah berikutnya yang bisa mereka lakukan.
Karena itu, beranda tidak harus memuat seluruh informasi bisnis sekaligus. Fungsinya lebih sebagai pengarah.
Dari beranda, pengunjung bisa melanjutkan ke halaman produk, jasa, artikel, informasi perusahaan, atau halaman kontak sesuai kebutuhan mereka.
Saya biasanya melihat beranda seperti sebuah pintu masuk. Kita tidak perlu menjelaskan semuanya di sana, tetapi jangan sampai orang yang baru datang justru bingung harus menuju ke mana.
Halaman produk atau jasa: menjelaskan apa yang ditawarkan
Jika beranda memberi gambaran umum, halaman produk atau jasa membantu calon pelanggan memahami penawaran kita dengan lebih spesifik.
Untuk bisnis jasa, halaman ini bisa menjelaskan jenis layanan, siapa yang cocok menggunakan layanan tersebut, ruang lingkup pekerjaan, proses, hingga cara menghubungi bisnis.
Pada bisnis yang menjual produk, struktur bisa dibuat berdasarkan kategori atau halaman produk individual, tergantung jumlah produk dan seberapa banyak informasi yang perlu disampaikan.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya keberadaan halamannya, tetapi juga kejelasan pesannya. Struktur yang rapi akan kurang membantu jika pengunjung tetap kesulitan memahami apa yang kita tawarkan. Karena itu, penyusunan copywriting website sebaiknya mengikuti kebutuhan informasi pelanggan, bukan sekadar memenuhi halaman dengan teks.
Kita juga tidak harus membuat satu halaman terpisah untuk setiap produk atau jasa sejak awal. Jika beberapa layanan masih sangat berkaitan dan informasinya cukup singkat, semuanya bisa ditempatkan dalam satu halaman terlebih dahulu. Struktur dapat berkembang ketika kebutuhan bisnis dan kontennya memang bertambah.
Tentang bisnis: memberi konteks dan kepercayaan
Halaman Tentang sering dianggap sebagai tempat untuk menulis sejarah bisnis sepanjang mungkin. Padahal, bagi pelanggan, informasi yang lebih penting biasanya adalah siapa yang menjalankan bisnis, apa yang dikerjakan, dan mengapa bisnis tersebut relevan dengan kebutuhan mereka.
Untuk UMKM, halaman ini bisa dibuat sederhana. Kita dapat menjelaskan latar belakang usaha, fokus bisnis, cara kerja, nilai yang dijaga, atau informasi lain yang memang membantu pelanggan memahami bisnis dengan lebih baik.
Jika memiliki pengalaman, portofolio, sertifikasi, lokasi usaha, atau informasi pendukung lain yang dapat diverifikasi dan relevan, informasi tersebut bisa ditempatkan di sini atau pada halaman tersendiri sesuai kebutuhan.
Tidak perlu menambahkan klaim yang berlebihan hanya agar bisnis terlihat lebih besar. Informasi yang jelas dan sesuai kondisi sebenarnya jauh lebih berguna bagi orang yang sedang mempertimbangkan untuk menghubungi kita.
Kontak: membuat langkah berikutnya jelas
Setelah calon pelanggan memahami bisnis dan penawaran kita, jangan membuat mereka bekerja terlalu keras hanya untuk mencari cara menghubungi.
Halaman kontak dapat berisi saluran komunikasi yang memang digunakan bisnis, misalnya WhatsApp, email, formulir, alamat usaha, atau informasi lokasi jika pelanggan dapat datang langsung.
Untuk beberapa bisnis, kontak bahkan menjadi tujuan utama website. Pengunjung tidak harus melakukan transaksi langsung di situs; bisa saja tujuan akhirnya adalah mengirim pesan, meminta penawaran, membuat janji, atau menanyakan ketersediaan produk.
Karena itu, struktur website perlu memiliki jalur yang jelas menuju tindakan tersebut tanpa harus menempatkan tombol atau ajakan yang berlebihan di setiap bagian.
Jika empat bagian dasar ini sudah jelas—beranda, produk atau jasa, informasi tentang bisnis, dan kontak—kita sebenarnya sudah memiliki fondasi yang cukup untuk mulai menyusun website.
Setelah itu, halaman tambahan bisa ditentukan berdasarkan kebutuhan nyata. Bisa berupa blog, FAQ, katalog, landing page, portofolio, atau halaman lain yang memang membantu pelanggan mengambil keputusan.
Jika Anda memilih menggunakan jasa website UMKM, struktur seperti ini juga membantu proses pengerjaan menjadi lebih terarah karena kebutuhan halaman dan informasi utama sudah dipikirkan sejak awal.
Namun ada satu hal yang sering menimbulkan kebingungan: apakah website bisnis cukup menggunakan halaman-halaman seperti ini, atau sebaiknya membuat landing page khusus?
Website Utama dan Landing Page Punya Fungsi Berbeda
Setelah menentukan halaman utama website, ada satu istilah yang sering membuat pemilik UMKM bingung: landing page.
Website utama dan landing page sama-sama bisa digunakan untuk memperkenalkan bisnis atau penawaran, tetapi keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Website utama biasanya menjadi pusat informasi bisnis. Di dalamnya, pengunjung bisa berpindah dari beranda ke halaman produk atau jasa, membaca informasi tentang bisnis, melihat artikel, lalu menuju halaman kontak.
Artinya, website utama memang dirancang untuk menampung beberapa kebutuhan dan jalur pengunjung sekaligus.
Landing page lebih fokus.
Biasanya halaman ini dibuat untuk satu tujuan tertentu, misalnya memperkenalkan satu layanan, menjalankan kampanye iklan, menawarkan produk tertentu, mengumpulkan leads, atau mengarahkan pengunjung melakukan satu tindakan yang sudah ditentukan.
Sederhananya, kita bisa melihat perbedaannya seperti ini:
- Website utama membantu orang memahami bisnis secara lebih menyeluruh.
- Landing page membantu orang fokus pada satu penawaran atau tindakan tertentu.
Karena itu, kita tidak harus memilih salah satu lalu mengabaikan yang lain. Sebuah bisnis bisa memiliki website utama sebagai pusat informasi, kemudian menggunakan landing page ketika ada penawaran atau kampanye yang membutuhkan halaman khusus.
Misalnya, sebuah UMKM memiliki beberapa jenis layanan di website utamanya. Ketika salah satu layanan sedang dipromosikan melalui iklan, kita bisa membuat halaman yang lebih fokus pada layanan tersebut agar pengunjung tidak perlu mencari informasi ke banyak bagian website.
Jika kebutuhan bisnis memang mengarah ke pola seperti itu, landing page UMKM dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi website, bukan sebagai pengganti seluruh website utama.
Namun setelah halaman produk, jasa, dan penawaran utama tersedia, muncul pertanyaan berikutnya: apakah sebuah website UMKM juga perlu memiliki blog atau artikel?
Kapan Blog atau Artikel Perlu Masuk ke Struktur Website?
Tidak semua website UMKM harus memiliki blog.
Jika tujuan website hanya memberikan informasi dasar tentang bisnis, menampilkan produk atau jasa, lalu mengarahkan pelanggan ke WhatsApp atau kontak lain, beberapa halaman inti bisa saja sudah cukup.
Blog mulai terasa berguna ketika pelanggan memiliki banyak pertanyaan yang tidak efektif dijawab hanya melalui halaman produk atau jasa.
Misalnya, calon pelanggan ingin memahami cara memilih produk, membandingkan beberapa pilihan, mengetahui proses layanan, atau mencari solusi atas masalah tertentu sebelum menghubungi bisnis.
Topik seperti itu biasanya lebih cocok dijelaskan melalui artikel.
Dalam praktiknya, saya lebih memilih membuat artikel dari kebutuhan informasi yang memang ada, bukan sekadar mengejar jumlah posting. Pertanyaan pelanggan, hasil riset keyword, dan masalah yang berulang bisa menjadi titik awal untuk menentukan topik yang layak dibahas.
Setelah topiknya jelas, barulah kita menyusun artikel agar tetap mudah dibaca sekaligus memiliki konteks pencarian yang tepat. Jika Anda ingin melihat prosesnya lebih rinci, saya sudah membahasnya dalam panduan menulis artikel SEO untuk UMKM.
Artikel yang relevan juga dapat membantu website berkembang secara bertahap. Halaman produk atau jasa tetap menjadi pusat informasi komersial, sementara artikel menjawab pertanyaan yang lebih spesifik dan mengarahkan pembaca ke halaman yang sesuai ketika mereka membutuhkan informasi lanjutan.
Namun membuat blog berarti ada pekerjaan tambahan: riset topik, penulisan, penyuntingan, optimasi, hingga menjaga agar artikel tetap sesuai dengan kondisi bisnis.
Jika pekerjaan tersebut belum bisa ditangani sendiri secara konsisten, menggunakan jasa artikel SEO bisa menjadi salah satu pilihan. Yang tetap penting adalah setiap artikel memiliki tujuan yang jelas dan benar-benar membantu calon pelanggan, bukan sekadar menambah jumlah konten.
Ketika halaman utama dan artikel mulai bertambah, pekerjaan berikutnya bukan membuat sebanyak mungkin halaman baru. Kita perlu memastikan setiap bagian website saling terhubung sehingga pengunjung tidak berhenti di satu halaman tanpa tahu harus menuju ke mana.
Hubungkan Halaman agar Pengunjung Tidak Buntu
Ketika jumlah halaman mulai bertambah, saya biasanya memeriksa satu hal sederhana: apakah pengunjung yang selesai membaca satu halaman tahu ke mana harus melanjutkan?
Website yang memiliki banyak halaman belum tentu mudah digunakan jika setiap halaman berdiri sendiri.
Misalnya, seseorang membaca artikel tentang cara memilih layanan tertentu. Setelah selesai, ia seharusnya bisa menemukan jalan menuju halaman jasa yang relevan, artikel pendukung, atau halaman kontak tanpa harus kembali ke beranda dan mencari dari awal.
Di sinilah internal link menjadi bagian penting dari struktur website.
Google Search Central juga menjelaskan bahwa mengatur situs secara logis dapat membantu pengguna dan mesin pencari memahami bagaimana sebuah halaman berhubungan dengan bagian lain dari website. Google juga menyebut bahwa link merupakan salah satu cara utama mereka menemukan halaman baru di web. [Sumber: Google Search Central]
Namun tujuan internal link bukan sekadar menambah sebanyak mungkin tautan.
Link sebaiknya muncul ketika memang membantu pembaca mendapatkan konteks atau melanjutkan perjalanan mereka.
Untuk website UMKM, pola sederhananya bisa seperti ini:
Beranda → halaman produk atau jasa → artikel pendukung → halaman lain yang relevan → kontak.
Alurnya juga tidak harus selalu satu arah. Artikel dapat mengarah ke halaman jasa, sementara halaman jasa dapat mengarahkan pembaca ke artikel yang menjawab pertanyaan lebih rinci.
Anchor text-nya pun sebaiknya memberi gambaran tentang halaman tujuan. Daripada menggunakan teks seperti “klik di sini”, gunakan kata yang memang menjelaskan konteks link tersebut.
Google memberikan panduan serupa: link text atau anchor text membantu pengguna dan mesin pencari memahami isi halaman yang akan dituju sebelum mereka membukanya. [Sumber: Google Search Central]
Dengan cara seperti ini, struktur website tidak hanya terlihat rapi di menu navigasi. Hubungan antarhalamannya juga ikut membantu pengunjung berpindah dari satu informasi ke informasi lain secara lebih natural.
Setelah hubungan antarhalaman jelas, kita bisa mulai melihat bentuk struktur yang lebih konkret berdasarkan jenis bisnisnya.
Contoh Struktur Website Berdasarkan Jenis Bisnis
Setelah memahami fungsi setiap halaman, kita bisa mulai melihat seperti apa struktur website jika diterapkan pada beberapa jenis UMKM.
Contoh berikut bukan template wajib. Tujuannya hanya membantu melihat bagaimana struktur bisa berubah mengikuti cara bisnis bekerja dan informasi yang dibutuhkan pelanggan.
UMKM berbasis jasa
Untuk bisnis jasa, calon pelanggan biasanya ingin memahami layanan yang tersedia, siapa yang cocok menggunakan layanan tersebut, bagaimana prosesnya, dan bagaimana cara menghubungi penyedia jasa.
Struktur sederhananya bisa seperti ini:
Beranda → Jasa → Tentang → Portofolio atau bukti pendukung bila tersedia → Kontak.
Jika jumlah layanan masih sedikit, beberapa jasa bisa ditempatkan dalam satu halaman. Namun ketika setiap layanan memiliki kebutuhan, proses, atau target pelanggan yang cukup berbeda, membuat halaman tersendiri bisa membantu pengunjung memahami pilihannya dengan lebih jelas.
Yang penting, jangan membuat halaman tambahan hanya agar website terlihat lengkap. Buat ketika memang ada informasi yang cukup dan berguna untuk pelanggan.
UMKM dengan katalog produk
Pada bisnis yang memiliki banyak produk, tantangannya biasanya bukan kekurangan halaman, tetapi bagaimana membuat pengunjung tetap mudah menemukan apa yang mereka cari.
Struktur sederhananya bisa seperti ini:
Beranda → Kategori produk → Detail produk → Tentang → Kontak atau informasi pemesanan.
Jika produknya masih sedikit, kita tidak selalu membutuhkan banyak kategori. Sebaliknya, ketika jumlah produk bertambah, pengelompokan yang jelas akan membantu pengunjung menyaring pilihan tanpa harus membuka satu per satu dari halaman utama.
Halaman detail produk juga sebaiknya berisi informasi yang memang membantu proses pertimbangan, seperti fungsi produk, spesifikasi yang relevan, variasi, cara pemesanan, atau informasi lain yang sesuai dengan kondisi bisnis.
Bisnis lokal dengan kontak sebagai tujuan utama
Untuk bisnis lokal, tujuan website sering kali lebih sederhana: membantu calon pelanggan memahami layanan, mengetahui area atau lokasi bisnis, lalu menghubungi kita.
Struktur yang digunakan bisa seperti:
Beranda → Produk atau jasa utama → Informasi lokasi atau area layanan → Kontak.
Jika bisnis memiliki lokasi fisik, informasi seperti alamat, jam operasional, area pelayanan, dan cara menuju lokasi bisa menjadi lebih penting dibanding membuat banyak halaman tambahan.
Pada model seperti ini, website tidak harus menjadi katalog besar. Yang lebih penting adalah pengunjung bisa menemukan informasi utama dengan cepat dan mengetahui langkah berikutnya.
Dari ketiga contoh tersebut, polanya sebenarnya sama: struktur mengikuti kebutuhan pelanggan dan cara bisnis melayani mereka.
Website jasa, katalog produk, dan bisnis lokal bisa memiliki susunan yang berbeda tanpa berarti salah satunya lebih baik. Struktur yang tepat adalah struktur yang cukup jelas untuk membantu orang memahami bisnis dan bergerak menuju tindakan yang relevan.
Setelah struktur dan hubungan antarhalaman mulai terbentuk, tahap berikutnya adalah memastikan halaman-halaman penting tersebut benar-benar dapat ditemukan dan diakses dengan baik.
Setelah Struktur Siap, Periksa Apakah Halaman Bisa Ditemukan
Struktur website yang rapi akan lebih berguna jika halaman-halaman pentingnya juga mudah ditemukan, baik oleh pengunjung maupun mesin pencari.
Karena itu, setelah halaman utama, produk atau jasa, artikel, dan internal link mulai tersusun, saya biasanya melakukan pengecekan sederhana: apakah setiap halaman penting bisa dicapai melalui navigasi atau link dari halaman lain?
Google Search Central menjelaskan bahwa sebagian besar halaman yang ditemukan Google berasal dari link pada halaman lain yang sudah di-crawl. Google juga menggunakan link untuk menemukan halaman baru yang akan di-crawl. [Sumber: Google Search Central]
Namun, bisa ditemukan oleh crawler tidak berarti sebuah halaman otomatis masuk indeks atau mendapatkan posisi tertentu di hasil pencarian. Google sendiri menegaskan bahwa tidak ada jaminan sebuah situs atau halaman tertentu akan ditambahkan ke indeks hanya karena mengikuti praktik SEO tertentu.
Itulah sebabnya saya memisahkan dua hal: menyusun website agar mudah dipahami dan mengoptimalkan bagaimana website ditemukan melalui pencarian.
Jika Anda ingin memahami konteks optimasinya lebih jauh, saya membahas penggunaan AI dan proses optimasi secara lebih luas dalam artikel SEO UMKM di Enoharyz.com.
Untuk website yang sudah dipublikasikan tetapi belum terlihat ketika dicari di Google, jangan langsung mengubah seluruh struktur atau membuat banyak artikel baru. Periksa lebih dulu apakah halaman dapat diakses, apakah sudah terindeks, dan apakah ada masalah teknis yang perlu diperbaiki.
Saya sudah membahas langkah pengecekannya secara terpisah dalam panduan ketika website tidak muncul di Google.
Pada akhirnya, struktur website bukan soal membuat sebanyak mungkin halaman. Mulailah dari informasi yang dibutuhkan pelanggan, tentukan halaman yang memang memiliki fungsi, lalu hubungkan semuanya agar orang tidak kesulitan menemukan langkah berikutnya.
Website yang sederhana tetapi jelas sering kali lebih masuk akal untuk dikelola daripada struktur besar yang sejak awal sudah sulit diperbarui.
Struktur yang Jelas Lebih Penting daripada Banyak Halaman
Kalau saya kembali ke pertanyaan rekan saya di awal artikel—“halaman apa saja yang perlu disiapkan?”—jawabannya ternyata bukan sekadar membuat Beranda, Tentang, Produk, dan Kontak.
Yang lebih penting adalah memahami informasi apa yang dibutuhkan pelanggan, halaman mana yang paling tepat untuk menyampaikannya, lalu memastikan setiap bagian saling terhubung dengan jelas.
Website UMKM juga tidak harus langsung besar. Kita bisa memulainya dari struktur yang sederhana, kemudian menambahkan halaman, artikel, atau landing page ketika kebutuhan bisnis memang berkembang.
Bagi saya, fondasi yang baik bukan website dengan halaman paling banyak, tetapi website yang membuat pelanggan lebih mudah memahami bisnis dan mengetahui langkah berikutnya.
Kalau Anda sedang menyusun atau memperbaiki website UMKM, bagian mana yang paling sulit ditentukan: halaman produk/jasa, navigasi, atau konten blog? Ceritakan di kolom komentar.
FAQ tentang Struktur Website UMKM
Berapa halaman yang perlu dimiliki website UMKM?
Tidak ada jumlah halaman yang harus sama untuk setiap UMKM. Website sederhana bisa dimulai dari beranda, halaman produk atau jasa, informasi tentang bisnis, dan kontak. Halaman tambahan sebaiknya dibuat ketika memang ada kebutuhan informasi yang belum terjawab oleh halaman yang sudah tersedia.
Apakah setiap produk atau jasa perlu memiliki halaman sendiri?
Tidak selalu. Jika jumlah produk atau jasa masih sedikit dan informasinya saling berkaitan, beberapa penawaran bisa ditempatkan dalam satu halaman. Halaman terpisah lebih masuk akal ketika setiap produk atau jasa membutuhkan penjelasan, target pelanggan, atau informasi yang cukup berbeda.
Apakah semua website UMKM perlu memiliki blog?
Tidak. Blog lebih relevan ketika bisnis memiliki pertanyaan pelanggan, topik edukasi, atau kebutuhan pencarian yang lebih tepat dijawab melalui artikel. Jika website hanya membutuhkan informasi bisnis dasar dan jalur kontak yang jelas, blog bukan keharusan.
Apa perbedaan website utama dan landing page?
Website utama biasanya menjadi pusat informasi bisnis dan memiliki beberapa halaman atau jalur navigasi. Landing page lebih fokus pada satu penawaran, kampanye, atau tindakan tertentu. Keduanya dapat digunakan secara bersamaan sesuai kebutuhan bisnis.
Bagaimana struktur website membantu SEO?
Struktur yang logis membantu pengguna dan mesin pencari memahami hubungan antarhalaman. Internal link juga membantu menghubungkan halaman yang relevan dan dapat menjadi salah satu cara mesin pencari menemukan halaman lain di website. Namun, struktur website tertentu tidak otomatis menjamin halaman akan mendapat peringkat tertentu di Google.
Sumber & Referensi
- Google Search Central. Panduan Memulai SEO. Referensi untuk struktur situs, link, anchor text, crawling, dan batasan mengenai indexing.